Berburu Damai Di Karimunjawa

karimunjawa

Tuhan cinta backpacker. Saya dan banyak pembawa tas punggung lainnya percaya itu, bahwa Tuhan selalu cinta pada mereka yang menempuh perjalanan, dan bahwa para penyusur bumi ini banyak dinaungi keberuntungan.

Sebagai backpacker pemula nan amatir, saya punya banyak cerita-cerita kecil yang menurut saya menakjubkan, yang pasti takkan saya dapat jika misalnya saya menghabiskan hari libur saya dengan menonton tivi seharian. Kawan, menonton tivi terlalu lama itu menghapus keberuntungan-keberuntungan kita untuk mendapati keajaiban-keajaiban kecil diluar sana.

Pagi itu 30 desember 2010 saya sangat menikmati moment saat berada di ujung kapal nelayan, terayun-ayun ombak sambil memandangi pulau-pulau kecil berpasir putih yang betebaran disekitar laut karimunjawa. Perahu kecil kami melaju pelan menembus perairan jernih menuju spot snorkeling pertama. Kejernihan laut memancar dari wajah kami. Ada ketenangan dan kesegaran luar biasa yang saya dapatkan disana, diatas perahu kecil itu. Namun hal berbeda saya rasakan saat naik kapal verry, tak ada kenikmatan rasanya. Di negeri ini setiap menggunakan fasilitas angkutan massal saya seringkali merasa berada ditempat penampungan bencana.

Sesi yang menjadi salah satu favorit saya adalah saat berenang bareng hiu di kolam penangkaran tak jauh dari dermaga nelayan. Sungguh, saya gugup sekali saat pertama kali turun ke kolam dengan hanya berbekal alat snorkel dan kacamata google saja. Apalagi hiu hitam dan hiu putih yang ada di kolam tersebut lumayan banyak. Saya gugup karena sebuah fakta, bahwa hiu ini jelas lebih mahir berenang dari saya, dan dia punya rahang dan gigi yang lebih tajam dari gigi saya. Berdekatan dengan sesuatu yg kita anggap lebih hebat atau lebih mahir memang memungkinkan kita untuk menjadi gugup. Kawan, sebuah persepsi yang dibangun tanpa data dan fakta akurat adalah jalan lapang menuju kesesatan. Hanya dengan melihat rahang yang kuat dan gaya berenang yang lincah telah membuat saya berprasangka buruk terhadap hiu ini. Dalam batas persepsi, saya telah melakukan kejahatan pada si hiu yg bahkan barangkali tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menggigit saya.

Sungguh, pada waktu masuk kolam itu saya masih mengira bahwa hiu-hiu disitu adalah hiu pemakan plankton seperti yang biasa dimakan hiu tutul. Namun saya tertegun ketika orang-orang dipinggir kolam melemparkan daging ikan yang disambut oleh para hiu dengan ganas, mereka berebut makan daging ikan, lalu setelah ikan habis mereka berenang berputar-putar sambil memperlihatkan siripnya di permukaan air. Saya rasa hiu itu sedang mengirimkan pesan bahwa mereka adalah predator terkuat dikolam itu. Pesan saya terima, dan segera saja saya memastikan bahwa tak ada bagian tubuh saya yang sedang terluka, karena seperti hiu pada umumnya mereka sensitif pada darah. Melihat ganasnya ikan-ikan hiu itu dalam berebut potongan daging ikan sebenarnya saya ingin segera naik ke atas kolam, namun satu pemahaman membuat nyali saya sedikit menguat: bahwa saya adalah makhluq dengan struktur mata berada didepan. Kawan, secara umum makhluk yang mempunyai mata menghadap kedepan adalah makhluk yang ditakdirkan sebagai pemburu. Harimau misalnya, mereka mempunyai mata menghadap kedepan agar bisa fokus memburu makanan, mereka tidak butuh mata yang bisa melihat kearah samping atau belakang karena mereka adalah pemburu, yang tak perlu takut akan diterkam oleh rusa atau kelinci dari belakang. Dan kawan, manusia juga adalah makhluk dengan mata menghadap kedepan, manusia adalah sebaik-baik pemburu. Masalah apakah manusia akan menjadi pemburu yang serakah atau bijak itu adalah pilihan, selalu sebuah pilihan.

Berenang bersama hiu hanyalah sedikit hal yang bisa kita nikmati dikarimunjawa, ia adalah semacam sambal yang membuat liburan menjadi lebih menggigit. Menu lain yang bisa kita nikmati adalah terumbu karang nan cantik dan jaim. Kabar baiknya kawan, seperdelapan dari seluruh populasi terumbu karang dunia ada di Indonesia. Itu artinya adalah bahwa lautan kita merupakan kebun terumbu karang terbesar didunia. Mari berteriak hore!! Dikarimunjawa, dengan duapuluh tujuh pulau dan perairan dangkalnya yang jernih kita bisa menghabiskan waktu seharian dengan snorkeling ke berbagai spot yang menakjubkan. Menikmati keragaman terumbu karang yang bertebaran dimana-mana sambil sesekali menggoda ikan-ikan kecil yang berenang-renang lincah.

Namun saya juga harus menyampaikan sebuah kabar buruk, sejak tahun 1998 pemanasan global yang mulai melanda perairan tropis telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang membunuh sebagian besar terumbu karang. Angka kematian terumbu yang disampaikan penggiat lingkungan hidup bahkan mencapai 90 persen. Maka terumbu karang di karimunjawa ini adalah sebagian kecil dari populasi terumbu karang dunia yang masih bisa bertahan hidup hingga saat ini. Terumbu karang yang tersusun dari koloni ribuan hewan kecil yang disebut polip ini sangat sensitif dengan adanya perubahan ekosistem. Mereka rata-rata hanya bisa bertahan hidup pada suhu 20-32 derajad celcius, kenaikan suhu dua hingga empat derajad diatas itu sudah cukup untuk membunuh mereka. Dan kawan, saking sensitifnya terumbu karang ini bahkan satu sentuhan manusia saja bisa membunuhnya. Lain kali saat berfoto bawah air saya akan berusaha untuk tak menyentuh si terumbu karang ini. Saya tak lagi ingin terlibat dalam kematian-kematian mereka. Kadang kurangnya pengetahuan tanpa kita sadari telah menjadikan kita pembunuh, entah itu terumbu entah itu kehidupan lain.

Seperti yang saya tulis di awal, bahwa para backpacker dinaungi banyak keberuntungan. Selama kurang lebih lima hari menikmati sudut-sudut laut dan jelajah darat karimunjawa kami dimanjakan oleh kuliner laut dan masakan bunda (panggilan kami untuk ibu pemilik homestay). Pagi-pagi bahkan sebelum kami bangun bunda telah menyiapkan teh manis hangat dan sarapan dengan berbagai menu, mulai soup ikan hingga baso khas karimun yang nikmat. Pada siang hari, disela-sela snorkeling kami disuguhi makan siang berupa berbagai jenis ikan laut segar yang dibakar dengan bumbu kecap buatan bunda. Jika berada disana pembaca akan takjub melihat cara kami makan, semua makan dengan porsi jumbo. Terlebih lagi geng dholpin yang selalu setia membuat kekacauan, betapa mengerikan cara mereka makan siang.. Hahahah. Takkan pembaca temukan orang yang makan dengan porsi malu-malu seperti cewek-cewek yang sedang kencan pertama di cafe-cafe. Oh, maaf ada. Si eva makan dengan porsi kecil, hanya nasi putih lauk mie dan tempe. Vegetarian yang berada di tengah laut kadang memang terlihat menyedihkan. Hey, hanya terlihat kawan, bukan benar-menyedihkan. Saya yakin eva bahagia saat makan berlauk tempe, karena tempe karimun memang lezat sekali. Pada waktu pertama kali disajikan saja tempe gorengnya langsung habis, saya sampai tidak kebagian, ugh. Ada satu lagi menu favorit kami yang disajikan bunda, yaitu es degan yang selalu tersedia setiap kami pulang snorkeling. Ah, indahnya karimunjawa.

Ayo terus berjalan kawan, menyusuri bumi dan menemukan keajaiban-keajaiban kecilnya, karena Tuhan menunjukkan banyak keindahan yang tak Ia tunjukkan pada mereka yang menghabiskan umurnya didapur dan tempat tidur.

-malang, 8 januari 2011-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *