Mencari

Setiap detik kita selalu menemui kenyataan baru yang berulang: Tumbuh. Meninggalkan potongan2 cerita masa lalu untuk bertemu dengan kejutan-kejutan berikutnya. Namun kita selalu bisa pulang. Setidaknya saya bisa selalu pulang, sejauh ini. Berlari2 ke hutan perbukitan di pinggir desa yang kini telah tak ada, atau bermain bola saat purnama.
Masa kecil memang menggoda, dan kehidupan begitu sederhana: Tertawa berarti bahagia, tersenyum berarti senang, dan wajah masam berarti kecewa. Saat itu saya memang belum begitu mengenal layar kaca, yang kelak menjadi guru terbaik untuk berpura-pura.
Menjadi muda dan memiliki pilihan mungkin adalah sebuah kutukan. Kutukan yang sama dengan ketika kita memiliki pengetahuan. Terusir. Setiap kita mendapatkan pengetahuan baru, maka kita akan segera terusir dari kenyamanan lama, menuju tempat yang lebih gelisah, tempat yang memiliki lebih banyak pilihan. Pengetahuan juga menyebabkan adam memiliki pilihan2. Dari awalnya hanya hanya tau tentang surga, maka dengan pengetahuan yang didapatnya ada muncul bumi dan neraka.
Baiklah, izinkan saya sedikit bercerita. Saat masih kecil barang mewah bagi saya adalah majalah mentari dan majalah donal bebek yang selalu saya pinjam dari tetangga, serta sebuah sepeda. Berjam-jam waktu kecil saya akan habis untuk masuk dalam dunia bebek dan tikus yang saya baca. Mikey tikus dan si Donal terlanjur membuat saya percaya bahwa cewek cantik di dunia itu Cuma dua: Dessy dan Minnie. Saat itu saya sungguh berharap punya teman bermain secantik mereka berdua. Kebahagiaan masa kecil yang sederhana.
Tumbuh menjadi muda terkadang merusak segalanya. Setidaknya saya jadi tau, bahwa ternyata perempuan paling cantik didunia itu bukan Dessy Bebek atau Minnie tikus. Sungguh, seberapapun anda menyangkalnya saya tetap percaya bahwa Dian Satro jauh lebih cantik daripada si Dessy kekasih Donald. Maka pengetahuan tentang dian sastro dan Annelis Melema telah membuat saya terusir dari salah satu pekarangan indah masa kecil saya.
Tumbuh menjadi muda sudah saya katakan merusak segalanya. Semakin banyak dian satro – dian sastro bermunculan dalam hidup saya. Ia menjelma menjadi cantiknya merek hape, ia menjelma menjadi trendynya model sepatu. Dan ia menjelma menjadi status pekerjaan yang terus diburu. Sungguh, dian satro tak pernah selesai. Pengetahuan selalu mengusir kita dari satu bentuk dian satro ke bentuk dian satro yang lain. Dari satu label ke label yang lain, dari satu merk ke merk yang lain. Orang bilang, saya sedang tumbuh mencari identitas, dan saya mencarinya kedalam eiger, ke dalam blackberry, kedalam hp, kedalam nokia, kedalam energen, kedalam Lea, kedalam garuda, kedalam canon dan kedalam hitamnya kopi.
Pada akhirnya saya memang merasa hanyalah bagian dari pencari identitas, yang berebut identitas dalam label-label yang berjejalan di semua media, dari pagi hingga pagi lagi. Namun, seperti yang sering disitir goenawan mohammad, bahwa Identitas itu konon ibarat sebuah bawang: Sesuatu yang tampak utuh, tapi jika dibuka yang ada hanyalah lapisan kulit demi lapisan kulit… kita buru hingga mata kita pedih dan berairpun yang ada hanya lapisan kulit.
Saya tak tau, jenis lapisan bawang macam apa yang sebenarnya ingin saya susun, atau saya kupas. Saya hanya berharap suatu saat bisa berhenti, untuk jatuh hati, dengan sederhana.

-fajar-

(Malang 11 Mei 2010 dini hari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *