Menghukum Orang Kesusahan

masyarakat miskin

Ada yang memandang Tuhan itu begitu pemarah dan suka menghukum. Saudara2 saya yang punya pandangan seperti ini ketika terjadi bencana akan dengan mudah mengatakan bahwa bencana itu adalah hukuman Tuhan atas dosa-dosa manusia yang sudah kelewatan, dan sebagai bangsa yang kelewatan kita memang layak untuk dihukum. Suara-suara seperti ini memang sedang nyaring, dan disuarakan dari lintas golongan, mulai masyarakat awam hingga pemuka-pemuka agama. Saya tahu, maksud dan tujuan saudara-saudara saya tersebut sebenarnya baik, mengajak pada pertaubatan dan mengajak kearah kebaikan.
Saya sendiri sementara ini justru sedang bertanya-tanya, benarkah Tuhan sedang menghukum hambanya yang terlalu berdosa? Logika saya memang sederhana, kalau Tuhan memang sedang menghukum pendosa, kenapa yang terhukum justru masyarakat-masyarakat pedesaan dan pesisir yang lugu, sementara koruptor-koruptor besar, pengemplang-pengemplang uang negara justru tak tersentuh, bisa bersantai studi banding keluar negeri dan jg ada yg nonton tenis malah. Di surabaya, lokalisasi terbesar di asia tenggara pun masih tetap meriah, jangankan kena wedus gembel, hujan abu pun tidak. Masa Tuhan salah menghukum?

Kalau logika seperti ini yang dipakai maka sungguh saya prihatin sekaligus khawatir, karena secara tidak sadar kita sedang menghakimi korban2 bencana sebagai kaum pendosa. Menurut saya ini sungguh tak adil dan tak patut. Kita bangsa yang korup dan pendosa, itu mungkin benar, tp gunung meletus adalah sunatullah agar keseimbangan energi bumi tetap seimbang, bumi sedang melepaskan energinya secara berkala. Saudara2 kita yang tertimpa musibah sedang kesusahan, maka janganlah justru menghakimi mereka dengan mengatakan itu adalah hukuman Tuhan. Wallahu a’lam.

01-09-2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *