Menjaga Harapan

Fajar

“Kalender selalu sampai di lembar terakhir, kita selalu tiba di pangkal pertanyaan: Benarkah harapan mungkin?” kata Goenawan mohamad, disalah satu tulisannya. Saya termenung2 saat membaca kalimat ini. Harapan, sebuah kata yang sering membuat saya gelisah, tegar sekaligus gentar. Saya sering menyebut harapan dengan mimpi, walaupun memang tak persis benar maknanya. Mimpi atau harapan membuat malam-malam saya disesaki tanya: saya sedang berdiri dimana? Jauhkah jarak saya dengan mimpi2 saya? Maka saya menjadi gentar, menyadari jauhnya mimpi dari kenyataan. Lalu saya memasukkannya –daftar mimpi- kedalam doa. Saya berdoa berulang2, disaat gelap dan terang. Saya berdoa berulang2 bukan karena takut Tuhan lupa dengan doa saya, atau meragukan kemurahanNYA yang jika saya hanya berdoa sekali maka takkan dipenuhi. Bukan. Saya berdoa berulang2 justru agar saya sendiri selalu ingat akan mimpi yang saya minta. Sungguh, merasa kalah, rasa gentar dan rasa lelah sangat efektif untuk membuat saya lupa dengan mimpi2 saya.
Suatu hari seorang sahabat bercerita, bahwa jika kita selalu mengingat keberuntungan2 dalam hidup kita secara terus menerus maka kita cenderung akan menemukan keberuntungan2 dalam hidup kita, demikian juga sebaliknya, jika yang selalu kita ingat adalah kesialan dalam hidup maka itu juga yang cenderung akan banyak kita temui dalam hidup selanjutnya. Saya setuju dengan yang disampaikan sahabat ini, menurut saya ini adalah konsep syukur: yaitu sebuah kesadaran akan betapa beruntungnya hidup kita.
Dikota malang yang dingin ini, kepada beberapa teman saya pernah menceritakan mimpi2 yang ingin saya gapai hingga akhir tahun. Bukankah kata motivator2 terkenal itu mimpi harus divisualisasikan, juga harus diceritakan? Namun, tak seorangpun percaya saya akan sampai. Dan seperti yang saya bilang, saya juga gentar saat mengingatnya. Kota yang dingin, tanggapan yang dingin.
Saya mungkin lupa, mimpi memang belum menjadi kebutuhan pokok seperti sembako dan sinetron. Segala sesuatu telah di reduksi dan disederhanakan di negeri ini, juga mimpi. ”Kejarlah cita2mu setinggi langit” disederhanakan menjadi ”luluslah dengan nilai tinggi dan carilah pekerjaan yang bagus” Nasehat yang menggoda untuk orang2 yang menatap mimpi dengan gentar seperti saya. Tapi pada akhirnya saya lebih memilih nasehat yang saya ciptakan untuk diri saya sendiri: Dinegeri yang dimiskinkan oleh sistem ini harga cabe saja boleh terbang tinggi, masa mimpi tak boleh tinggi? Kota yang dingin, dengan hati yang sesaat terasa hangat.
Sebenarnya tak selamanya saya melihat mimpi dan negeri ini dengan muram. Setidaknya ada terbersit rasa bangga menjadi anak negeri ketika ingat bahwa republik ini didirikan oleh jutaan orang yang bersemangat, jutaan orang yang berani bermimpi tinggi. Tentang sebuah republik merdeka yang penuh dengan kemakmuran dan keadilan didalamnya. Ya, para pendiri republik ini telah mengajarkan kita untuk berani bermimpi. Yang tinggi.

Malang, 25 juli 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *