Tidur Ditemani Bintang

Ini adalah kisah tentang sebuah negeri yang begitu menerima perbedaan, negeri kita, nusantara. Saat berbincang dengan seorang sahabat dia bercerita tentang tari, ada pola mengagumkan tentang tari2an di Indonesia: Dari arah paling barat, aceh, orng menari dengan posisi duduk2, semakin ketimur di jawa, kalimantan dan sulawesi orang menari dengan posisi semakin berdiri, hingga sampai di papua orang menari dengan melompat2. Sbuah keragaman yang tersusun indah. Tak ada satupun negeri yang seperti ini, tidak negeri jauh, tidak pula negeri tetangga. Tuhan menyusun Indonesia terlalu sempurna.
Mungkin kita terlalu terbiasa dengan perbedaan. Bahkan perbedaan2 yang ekstrim sekalipun, karena memang atas dasar itulah negeri kita disusun.. Konon namanya adalah kemajemukan. Bhineka tunggal ika. Walau saudagar dan sudra, tapi tetap merasa sebagai saudara.
Setiap ada tugas keluar kota biasanya saya selalu menyempatkan diri jalan2 keliling kota, jalan kaki saja. Suatu malam ketika jalan kaki meyusuri trotoar dijember didekat gramedia saya menemukan seorang lelaki yang meringkuk di trotoar sambil memeluk sebuah tas, tak terbayangkan dinginnya karena hari baru saja hujan dan trotoar tempatnya tidur bahkan belum mengering benar. Tak sampai setengah jam jalan kaki saya menemukan banyak sekali orang2 yang senasib dengan laki2 pemeluk tas tadi. Sungguh, trotoar adalah tempat tidur terpanjang didunia.
Namun menurut saya ada jalanan yang lebih bisa mewakili bhineka tunggal ika dengan lebih pas dari pada jalanan di jember, yaitu jalan dhoho kediri, yang merupakan salah satu ruas jalan utama di kediri. Kalau malam-malam kita jalan menyusuri jalan doho, dengan mata telanjang kita akan lihat betapa disepanjang jalanan ini begitu banyak jenis makanan tersedia, mulai pecel tumpang, urap2, ayam goreng, sate, roti, hingga berbagai jenis makanan lainnya.. Yang tentu lebih banyak adalah pengunjungnya, tertawa canda menikmati malam sepanjang doho. Saya gembira melihatnya, inilah pesta ala rakyat. Tak ada dana trilyunan ala century, tak ada penggelapan senilai milyaran ala markus pajak. Ya, inilah pesta rakyat. Namun kawan, jangan lupa, ini adalah negeri yang berslogan Bhineka Tunggal ika, smua yang berbeda hidup di alam yang sama. Dijalan doho yang menyenangkan ini, jika hari semakin malam maka akan semakin banyak oarang2 dengan tampilan menyedihkan terbaring begitu saja sepanjang jalan, disela2 penjual makanan, adu banyak dengan mereka yang berpesta menikmati malam. Terbaring tanpa masa depan, sambil menatap bintang bintang. Disekolah, selamanya kisah tentang bintang-bintang adalah kisah tentang keindahan. Dijalanan, selamanya kisah tentang bintang-bintang bersaudara dengan kelaparan. Tentu saja, saya bukan orang yang taat beribadah. Namun malam itu gemetar hati saya saat ingat sebuah kalimat bijak, yang mengatakan bahwa akan dilaknat oleh malaikat seorang yang tidur dg perut kenyang sementara tetangganya ada yang kelaparan.
(Ditulis sepotong potong sepanjang malang, jember dan kediri. 1 April 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *