Tuhan Yang “Feminin”

fajar-dan-sahabat

Saya adalah fajar kecil yang cerewet dan banyak bertanya. Dan menyebalkan. Suatu ketika karena terlalu banyak bertanya dengan agak gusar guru saya berkata “jangan terlalu banyak bertanya, seperti bangsa yahudi saja”. Tentu saja waktu itu saya masih terlalu kecil untuk tau apa itu “terlalu banyak tanya” dan “bangsa yahudi” pengetahuan saya tentang bangsa yahudi hanyalah sebatas tentang kisah para rasul, dimana orang2 yahudi bertanya berkali2 kepada rasul tentang ciri2 sapi yang harus dicari. Maka sayapun menggumam dalam hati “saya kan bertanya tentang pelajaran, bukan tentang sapi”.
Ketika kemudian saya menjadi mahasiswa, saya bertemu sahabat2 yang alhamdulillah bawelnya lebih parah dari bawel yang menjangkiti saya. Sahabat2 yang hobinya menanyakan, mempertanyakan dan menyatakan hal2 yang kontroversial. Terkadang yang dinyatakan benar tapi tertolak oleh konstruksi sosial, dan tidak diakui sistem. Suatu ketika dalam sebuah diskusi kecil, seorang sahabat yang kini menjadi dosen sebuah perguruan tinggi negeri islam ternama di surabaya berkata ” memakai jilbab itu tidak wajib” ujarnya dengan gaya yang nyentrik, khas sidoarjo. Seorang sahabat lain segera terpancing ” wah ngawur” ujarnya dengan berapi2. Dengan tenang sahabat pertama tadipun tersenyum penuh kemenangan, kumis anehnya yang setia ikut kemana2 bergerak2 mengikuti pola senyumnya. “Yang wajib itukan menutup aurat, bukan memakai jilbab. Menutup aurat bisa dengan apa saja, bisa dengan sarung, bisa juga dengan selimut, tak harus dengan jilbab” lanjutnya, mantab. Hahahha saya tertawa lepas dalam hati, akan saya tunggu masa nya tiba. Saya akan lihat apakah kelak istrinya akan pergi ke mall dengan memakai selimut, atau memakai kain gulungan, atau memakai spanduk yang sudah tidak terpakai. Kawan, terkadang kebenaran memang memilukan.
Beberapa waktu yang lalu di penghujung malam, disebuah tempat yang damai di jogja saya larut dalam diskusi dengan dua orang sahabat, seorang santri gontor dan seorang TKW penjual shampo baik hati yang memberi kami tumpangan menginap. Sahabat dari gontor ini bercerita, tentang Tuhan laki2 dan Tuhan perempuan. “Dahulu saya mempersepsikan Tuhan itu sebagai Tuhan laki2, Tuhan yang maskulin. Tuhan yang gemar menghukum jika saya berbuat salah” curhatnya, memelas. Dan saya pun terharu. “Akibat dari persepsi dari Tuhan maskulin ini kehidupan saya jadi serasa terkekang. Langkah saya jadi terbatas karena takut salah, takut dihukum” lanjutnya. Dan saya masih terharu.
“Sekarang saya mempersepsikan Tuhan sebagai Tuhan perempuan, Tuhan yang feminin. Dalam persepsi saya sekarang, Tuhan adalah sosok yang lembut dan pemaaf. Tuhan yang penyayang. Dengan persepsi saya sekarang, hidup jadi lebih tenang dan lebih bebas” tutupnya. Sejenak dia terdiam, perempuan penjual shampo terdiam, saya terdiam, dan Mas Jek yang sedang tidur lelap didalam rumah pun juga terdiam.
Baiklah, saya ingin menanggapi.
Menurut saya sah2 saja persepsi sahabat dari gontor ini tentang Tuhan. Bukankah Tuhan sendiri berkata “Aku adalah seperti yang kamu sangkakan”? Walaupun pendapat yang lebih konservatif mengatakan bahwa Tuhan itu bukan laki2 dan bukan perempuan. Yang ingin saya tanggapi adalah persepsi tentang laki2 dan perempuan itu sendiri, persepsi tentang maskulin dan feminin. Ah, kawan, dewasa ini menurut saya terlalu tergesa2 jika mendefinisikan lelaki dengan tegas, keras, dan senang menghukum. Dan mendefinisikan perempuan dengan lembut dan pemaaf serta penyayang. Mendefinisikan laki2 dan perempuan seperti itu bisa saja tepat, tapi kita harus mundur 75 tahun kebelakang dulu :).
Jadi begini kawan, walaupun sebenarnya ide lama, tapi saya senang dengan ide “Tuhan yang lembut dan pemaaf, serta pengasih dan penyayang, seperti dalam kalimat yang melengkapi bismillah” namun saya sedikit geli dengan definisi dan persepsi tentang laki2 dan perempuan itu sendiri. Bukankah sudah nyata, bahwa engkau dilahirkan dengan nama luthfi, yang artinya Lelaki yang Lembut? Bukan Lathifah, yang berarti perempuan yang lembut. Namamu sangat “mudzakkar” kawan, bukan “muannas”. Atinya sifat lembut itu juga bisa sangat lelaki. Maka kutunggu undanganmu disebuah warung kopi, untuk mendiskusikan masalah ini lebih jauh. Atau, aku akan tetap geli.

Sebuah doa: Wahai Tuhan -yang maskulin dan feminin- terimakasih karena telah memberikan saya sahabat2 yang bawel, dan mohon berikanlah lebih banyak sahabat dari jenis mereka. Tapi Tuhan, satu istri yang bawel saja saya rasa sudah cukup. Itupun jangan yang terlalu bawel.. Amin.

(Indonesia, 07 Juli 2010)

One thought on “Tuhan Yang “Feminin”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *