Terpesona di Taman Sri Baduga, Purwakarta

Taman Sribaduga

Malam itu mata kami berbinar, air mancur megah terbentang di depan kami, yang termegah di Asia Tenggara. Lokasi Air mancur juga unik, di jantung kota Purwakarta, Jawa Barat, masyarakat sekitar menyebutnya Taman Sri Baduga.

Tangan saya sibuk mengatur manual fokus kamera canon pinjaman teman, membidik momen yang tepat diantara tarian air mancur dan kilatan cahaya multi warna yang meliuk-liuk mengikuti irama lagu. Saya pikir pujangga jawa dulu yang menulis kisah bidadari mandi di sungai belum tentu punya imajinasi seperti ini: Air megah yang menari.

Hujan mulai turun, kami bertahan. Jaket yang juga saya pinjam dari teman, yang seharusnya bisa saya pakai menutup kepala dari hujan, saya bebatkan ke kamera, melindunginya dari air, supaya bisa terus memotret. Kaos saya basah, dengan hati terpesona.

Air mancur di taman Sri Baduga ini tidak tampil tiap hari, dia hanya tampil seminggu sekali di malam minggu atau ketika ada hari-hari khusus. Sebelum tarian air ini dimulai, tampak masyarakat antri berjejal-jejal ingin masuk ke taman, tidak dipungut biaya sama sekali untuk menikmati air mancur megah ini. “Semua saya gratiskan,  agar masyarakat bisa menikmatinya” kata Kang Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, saat kami bertamu ke rumah tinggalnya.

Dahulu, saat taman Sri Baduga ini belum dijadikan objek wisata air mancur, tempat ini terkenal sebagai taman yang gelap dan menjadi tempat mesum. Setelah kini dijadikan taman air mancur megah, dengan penerangan yang cukup maka praktek esek-esek yang dulu marak disana ikut hilang bersama cahaya lampu yang terang. Cahaya memang disinfektan yang ampuh bagi taman yang mengidap hama sosial.

Keputusan Kang Dedi Mulyadi menggratiskan tiket masuk ke dalam air mancur megah ini menarik, dalam ceritanya malam itu, kang Dedi mengatakan bahwa ia membidik multiplier efect dari dibukanya tempat wisata ini. Menurut kang Dedi, dalam sekali penampilan, biaya listrik dan operasional air mancur menari ini menghabiskan sekitar 28 juta hingga 45 juta rupiah. Namun perputaran uang yang diakibatkannya lumayan besar, pusat kuliner disekitar taman airmancur dibanjiri pengunjung, di Kampoeng Maranggi dan Wisata Kuliner Tjeplak misalnya, dalam satu malam uang berputar bisa sampai 1 milliar.

Selain medatangkan keuntungan ekonomi yang besar untuk pelaku UKM di Purwakarta, adanya Air Mancur Taman Sri Baduga ini juga telah menghemat pengeluaran keluarga di sana saat mencari hiburan. Menurut kang Dedi, warga Purwakarta sebelumnya banyak yang menghabiskan uangnya untuk berlibur keluar kota Purwakarta karena minimnya tempat liburan yang bagus disana, namun dengan adanya taman air mancur ini keluarga-keluarga disana bisa berlibut dengan hemat namun tetap menyenangkan.

“Ini adalah salah satu cara untuk menggerakkan ekonomi masyarakat” jelas Kang Dedi, menjelang tengah malam. Dengan adanya tempat wisata ini Kang Dedi berharap ekonomi masyarakat semakin bergerak naik dan warganya jadi lebih bahagia.

Yang membanggakan dari taman ini salah satunya adalah karena dikonsep dan dikerjakan oleh warga lokal Purwakarta, bukan dikerjakan oleh tenaga asing, yang mendapat kepercayaan dari kang Dedi untuk membangun dan mengurusnya.

Taman Air Mancur Sri Baduga yang megah itu, adalah hasil kerja keras orang-orang yang sanggup berdialog dengan tradisi masa lalu dan modernisme, kemudian mendamaikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *