Mengintip Usaha Dedi Mulyadi Menjadikan Museum sebagai Lokomotif Creative Tourism di Purwakarta

Buku Digital

Beberapa daerah diberkahi dengan alam yang indah dan menakjubkan. Sebagian daerah diberkahi dengan lahirnya kreativitas tak terduga. Purwakarta, kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat barangkali bukan daerah yang memiliki alam luar biasa seperti Bali, atau Wakatobi, tapi diam-diam sesuatu yang indah sedang tumbuh: Kreativitas. Purwakarta memoles pariwisata dengan berani, dimulai dari hal-hal yang didaerah lain justru tidak populer.

Malam itu saya dan beberapa kawan blogger ngobrol gayeng dengan Kang Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, di rumah dinasnya, dekat taman air mancur Sri Baduga. Dalam obrolan ringan yang sesekali diselingi gelak tawa tersebut, Kang Dedi bercerita tentang mimpinya membangun pariwisata kreatif Purwakarta. Selain membangun air mancur megah terbesar di Asia Tenggara, ternyata Kang Dedi juga memperbarui museum-museum di Purwakarta, menjadi jauh lebih menarik dan canggih.

Pilihan Kang Dedi menjadikan Museum sebagai lokomotif pariwisata di kabupaten Purwakarta ini menarik. Kenapa harus museum? Bukankah museum justru di banyak tempat adalah destinasi wisata yang jarang dikunjungi dan bahkan cenderung di hindari? Disinilah rupanya letak kejelian Kang Dedi, bahwa banyak hal yang secara umum tidak populer namun dengan sentuhan khusus ternyata bisa diangkat menjadi destinasi yang unik dan menarik.

Penasaran dengan obrolan semalam, pagi itu kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke salah satu museum di Purwakarta, untuk mengkonfirmasi cerita Kang Dedi terkait kecanggihan museum-museum yang telah diperbaharui. Dengan sedikit bersin-bersin karena malam harinya kehujanan saat menikmati indahnya air mancur di taman sri baduga, saya dan beberapa teman bloger meluncur ke Bale Panyawangan, sebuah museum dan sekaligus diorama yang kini menjadi andalan pariwisata kabupaten Purwakarta.

Letak Bale panyawangan ini cukup mudah diakses, karena tepat berada didepan stasiun Purwakarta, jadi kalau dari jakarta naik kereta api bisa turun langsung didepannya. Tidak seperti museum pada umummnya yang menjual tiket masuk, museum Bale Panyawangan ini digratiskan untuk semua pengunjung. Hal yang sama juga berlaku di semua museum di kabupaten Purwakarta: gratis setiap hari.

Hal menarik lainnya dari museum ini adalah runtuhnya stigma umum, bahwa jika ada fasilitas publik yang digratiskan maka kondisinya biasanya buruk dan tidak terawat. Bale Panyawangan mematahkan stigma tersebut, kondisi museum sangat bersih, rapi dan pengunjung akan dilayani oleh petugas yang sangat ramah, yang jika kita iseng memberikan uang tips maka mereka akan dengan segera menolaknya.

Bale Panyawangan adalah museum yang didalamnya ditanam teknologi canggih. Disana kita bisa menerawang jauh ke masa lalu namun tetap bersentuhan dengan teknologi terkini. Masa lalu ternyata tidak selalu dan tidak harus muram.

Ketika baru masuk museum kita disuguhi oleh denah museum digital dengan layar touchscreen, membuat pengunjung dengan mudah melihat denah 9 ruangan utama didalam museum. Kejutan utama bagi saya adalah ketika mendapati sebuah buku besar yang memdukan konsep klasik dan digital. Buku tersebut sangat menarik, ketika kita buka maka dihalaman sebelah kiri akan muncul tulisan terkait tema-tema sejarah tertentu, sementara di halaman sebelah kanan diatas kertas polos buku tersebut akan muncul gambar digital sebagai penjelasan tulisan di sebelah kiri, lengkap dengan suara yang bertutur sesuai isi buku. Jika kita membalik buku ke halaman selanjutnya, maka otomatis gambar digitalnya juga akan ikut berubah, demikian juga suara narasinya, akan segera menyesuaikan. Jika kita tutup bukunya, suara dan gambarnya ikut berhenti.

Selain buku, banyak tema dan pajangan digital lain di museum tersebut, misalnya sepeda digital, dimana kita bisa naik sepeda yang dirancang statis namun dengan pemandangan tika layar besar yang dinamis, jadi kalau kita menggenjot sepeda tersebut kita akan berasa naik sepeda keliling Purwakarta, dengan pemandangan jalan yang juga di setting seperti purwakarta.

Di era kepemimpinan Dedi Mulyadi, Purwakarta juga rajin menggelar event-event kreatif, baik yang bertaraf lokal maupun internasional. Pada bulan april 2016 lalu misalnya, Purwakarta menggelar Festival Bela Diri Internasional. Dalam festival yang diikuti oleh sekitar 80 peserta dari 6 kontingen yang menjadi kiblat beladiri dunia (Brasil, Korea Selatan, Jepang, China, India dan Indonesia) para kontingen memamerkan keindahan seni beladiri masing-masing negara. Tidak ada pertunjukan perkelahian disana, karena yang dipertunjukkan memang menonjolkan seni beladirinya.

Selain Festival Bela Diri Internasional, berbagai festival lain juga digelar di Purwakarta, antara lain: Festival Etnik Internasional yang diikuti oleh 10 negara pada bulan agustus 2016 dimana pada tahun sebelumnya juga digelar festival serupa, Festival Ternak Unggul yang diadakan awal tahun 2017, Festival Layang-Layang pada oktober 2016, Festival Sampurasun pada 2016 yang berhasil mencetak rekor MURI, Festival Steak Maranggi, dan berbagai festival unik lainnya.

Bagi beberapa daerah, penting memiliki pemimpin dengan pola pikir baru, ide-ide baru, dan kelincahan untuk mewujudkannya, namun tidak tercerabut dari akar sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *