Tapi Bukan Buat Kita

Suatu ketika seseorang bercerita, betapa melelahkannya menyusuri jejak-jejak digital. Ia tak bersuara tapi riuh, ia kadang sederhana namun melelahkan. Ia bercerita, ia menyusuri jejak-jejak digital karena lelah dengan rutinitas. Setiap bangun tidur selalu bertanya-tanya: kenapa saya harus berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan pada hari-hari yang sama, terus menerus? Kebosanan yang melelahkan.

Kebosanan, dalam kehidupan sehari-hari sangat dekat dengan dengan hasil kerja dan tindakan yang begitu-begitu saja, yang biasa-biasa saja. Dan jika kita terus mentolelir hasil kerja yang bisa saja itu, selama bertahun-tahun, maka pelan-pelan kita akan mengalami kematian spiritual. Sebagian orang kemudian melarikan diri ke dunia digital. Karena konon disana kesedihan tidak kekal.

Namun ternyata dunia digital membawa  kepada rutinitas baru, yang lebih membosankan. Di dunia digital kita dengan mudah menemukan lagu merdu. Tapi bukan buat kita.

Di dunia digital kita juga dengan mudah menjadi puisi, yang tak berpembaca.

11 thoughts on “Tapi Bukan Buat Kita

  1. Dunia diketal seakan-akan menjadi teman yang mengerti akan penderitaan dan keinginan kita. Digital mampu menghibur dan tempat bercerita yang kapanpun siap mendengarkannya.
    Oh Luna maya, ets dunia maya.

  2. Ahahah bener banget.. Dunia digital bikin kita kadang hidupbya lbh monoton tapi seolah gak mau gerak ni badan buat lepas dr dunia itu. Tampaknya emang manusia udah menjiwai dunia digital. Wkwkwk

  3. Agar dunia tidak membosankan Sepertinya kita harus membuatnya sendiri. Tidak menelusuri jejak-jejak yang sudah ditempuh oleh orang lain, Karena itu adalah masa lalu. Sang pembuat jejak pun mungkin sudah lupa pada jejaknya. Jadi ngapain kita yang harus menelusuri? Jadi kita ciptakan dan buat jejak sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *