Dari Integrasi Transportasi Publik Hingga JA Connexion: Karena Jalanan Jakarta Sudah Sekarat

Mencoba Big Bird JA Connexion. Foto by Fika Octavia

Jika setiap hari kita menyusuri jalanan Jakarta dan sekitarnya kita pasti mafhum bahwa jalanan Jakarta sedang sekarat. Mobil-mobil mewah berjalan merangkak seperti sedang terkena stroke, mobil yang jelek nasibnya juga sama. Berjalan 1 meter lalu berhenti lama, begitu seterusnya, hingga menjelang tengah malam kita sampai rumah mereka yang kita sayangi sudah lelap.

Dalam sehari, mereka yang berangkat dan pulang disaat puncak kemacetan bisa kehilangan total hingga 6 jam sehari di jalan, saya dulu sering begitu, berangkat 3 jam di jalan, pulang 3 jam. Bahkan Gusti Allah pun tidak mengambil waktu kita sebanyak itu untuk sholat 5 waktu. Kurang kejam apalagi jalanan Jakarta ini? Kenapa begitu kejam? Ya karena kita naik kendaraan pribadi. Kita sedang berlaku kejam pada diri sendiri dan orang lain. Jadi, lain kali kalau naik kendaraan pribadi di jabodetabek dan cuma berisi satu orang, jangan lupa baca istighfar, mohon pengampunan.

Beberapa kali saya bertemu dengan Pak Bambang, plt. Kepala BPTJ (Badan Penanggung Jawab Transportasi Jabodetabek), penjelasan yang saya terima menarik. Menurut Pak Bambang, kondisi transportasi Jabodetabek memang sudah darurat “Kita tidak bisa lagi bussiness as usual” kata beliau, serius. BPTJ saat ini memang sedang intens membangun sistem transportasi yang terintegrasi, agar kita tidak lagi repot dan ruwet kalau mau pakai transportasi publik. Ujung-ujungnya adalah agar Jabodetabek terurai kemacetannya.

Kerja mengintegrasikan transportasi Jabodetabek adalah kerja besar, PR nya juga banyak, mulai ego sektoral antar institusi dan pemerintah daerah maupun ego pribadi. Iya, pribadinya diriku dan dirimu, yang hobi naik kendaraan pribadi itu.

Menyadari bahwa ini adalah kerja besar dan berat, BPTJ khususnya, dan Kementerian Perhubungan secara umum, berusaha merangkul dan mensinergikan semua stake holder transportasi, untuk sama-sama melakukan pembenahan dan integrasi transportasi publik di Jabodetabek.

Merangkul Moovit Indonesia

Bersama Menteri Perhubungan, Bp. Budi Karya, setelah mencoba Aplikasi Moovit

Salah satu stakeholder yang dirangkul dengan serius oleh BPTJ adalah Moovit Indonesia. Moovit merupakan aplikasi pemandu moda transportasi publik, saat ini sudah digunakan di sekitar 700 kota-kota di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri Moovit sudah terintegrasi dengan 612 trayek transportasi publik se Jabodetabek, bahkan terintegrasi hingga rute angkot.

Aplikasi Moovit ini menarik, sebagai aplikasi pemandau moda transportasi publik dia memiliki banyak skill: Pertama, kita bisa mencari rute paling efisien menggunakan transportasi publik ke tempat yang akan kita tuju. Tinggal kita set lokasinya, maka moda-moda yang perlu kita gunakan akan tersedia. Kedua, kita bisa menghitung waktu tempuh, menghitung waktu kapan moda yang kita butuhkan sampai dan nyamperin kita, sehingga kita tidak perlu kalang kabut tergesa-gesa karena tidak memiliki perkiraan waktu. Ketiga, aplikasi Moovit ini punya feature untuk reminder saat halte atau tempat yang kita tuju sudah sampai, jadi kita tidak perlu khawatir kelewatan. Kabar baiknya, aplikasi moovit ini bisa kita unduh gratis.

Untuk lebih jelasnya video terkait moovit indonesia bisa dilihat di channel youtube berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=Vs-JOvHmNPw

Jakarta Airport  Connexion

Kepala BPTJ, Bp. Bambang, sedang memberikan penjelasan terkait JA Connexion

Terobosan menarik lain yang dilakukan oleh Kemenhub, khususnya BPTJ adalah JA Connexion (Jakarta Airport Connexion). Jika sebelumnya angkutan massal bandara biasanya berbasis lokasi atau wilayah, misalnya bis dari Bandara ke Gambir, atau dari Bandara ke Bekasi, maka JA Connexion ini door to door, dari bandara ke lokasi bisnis (Mall dan Hotel).

Pemilihan Mall dan Hotel sebagai tujuan dan rute JA Connexion ini menarik, biasanya pengunjung mall dan tamu-tamu yang menginap di hotel pergi ke bandara menggunakan taxi atau mobil sewaan dari hotel, satu mobil hanya berisi satu atau dua penumpang. Ini jelas salah satu penyumbang kemacetan, karena dalam sehari jumlah orang bepergian ke bandara di Jakarta mencapai kurang lebih 150 ribuan orang. Dengan JA Connexion maka angkutan yang terkesan lebih “pribadi” dan muat sedikit orang diubah menjadi angkutan massal yang nyaman.

Dari segi harga, bus yang mengantar kita ke bandara secara rame-rame ini jelas jauh lebih murah, biayanya berkisar 50 ribu per orang, jauh lebih murah dari pada sewa taksi atau sewa mobil. Rute dan waktunya pun jelas dan teratur. Saat ini total kendaraan JA Connexion ada sekitar 91 unit yang beroperasi, dengan rincian 33 kendaraan berangkat dari hotel, dan 58 kendaraan berangkat dari mall.

BIG Bird JA Connexion

Bis Big Bird JA Connexion

Salah satu operator bis yang menyediakan layanan JA Connexion adalah Big Bird, perusahaan yang masih satu group dengan raksasa taksi Indonesia, Blue Bird. Untuk JA Connexion, Big Bird menyediakan sekitar 15 armada bis yang melayani berbagai tujuan, baik mall maupun hotel.

Beberapa hari lalu saya dan beberapa kawan blogger kebetulan berkesempatan untuk mencoba armada big bird ini. Sejauh yang saya rasa, Big Bird JA Connexion ini cukup nyaman untuk dikendarai, fasilitasnya pun cukup lengkap, kursi yang nyaman dan bisa digeser ke samping, full AC, dan LED TV, juga dilengkapi dengan Wifi dan tempat ngecharge hape, tinggal kita tambah kopi jadi berasa di kamar sendiri. Asiklah.

Menurut Pak Sigit, Direktur Blue Bird, bis bandara Big Bird ini mulai beroperasi sejak pukul 6.00 wib. hingga pukul 23.00 wib. “Kita siap untuk membantu program ini dengan shuttle bus Big Bird yang terkoneksi dengan beberapa hotel di Jakarta dan juga Mall Grand Indonesia” Tegasnya, di depan para blogger, sambil menikmati kopi pagi.

Bagi yang penasaran dengan rutenya, bisa cek list berikut:

  1. Bandara Soekarno Hatta-Hotel Borobudur-Hotel Alila -Hotel Luminor,
  2. Bandara Soekarno Hatta-Hotel Aryaduta-Hotel Sari Pan Pacific,
  3. Bandara Soekarno Hatta-Hotel Grand Cemara-Hotel Ibis Thamrin-Hotel Millenium,
  4. Bandara Soekarno Hatta-Hotel Grand Sahid Jaya-Mal Grand Indonesia-Hotel Asscot

Mengintegrasikan transportasi publik, mengurangi kemacetan dan peningkatan kualitas dan kenyamanan layanan publik adalah kerja besar dikawasan super macet seperti Jabodetabek. Dan setiap kita harus punya peran.

2 thoughts on “Dari Integrasi Transportasi Publik Hingga JA Connexion: Karena Jalanan Jakarta Sudah Sekarat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *