Kromosom XX

Kromosom XX

“Saya berkromosom xx” tulis seorang sahabat yang baru saya kenal beberapa waktu lalu dalam profile jejaring sosialnya. Ya, itu artinya dia seorang perempuan, yang menurut dia akan jatuh cinta pada laki-laki sebagai konsekuensi dari kromosom xx nya. Perempuan, wanita, kromosom xx, girl, woman secara biologis memang mempunyai arti sama.

Dalam perkembangannya, panggilan ini mengalami konstruksi sosial yang luar biasa. Padanya dilekatkan berbagai nilai dan norma. Padanya juga dilekatkan berbagai stempel. Pada rezim Soeharto yang bernuansa jawa kental semua pejabat harus memanggil makhluq berkromosom xx ini dengan Wanita, bukan perempuan. Maka sebutan “wanita” pun naik kasta. Nilai kata “wanita” lebih tinggi dari perempuan. Ia adalah sebutan yang sopan, sebutan yang mengangkat derajad orang yang disebutnya. Konon kata “wanita” berasal dari bahasa jawa, “Wanito” yang artinya Wani Ditoto, atau mau diatur. Tentu saja, para aktivis gerakan feminin menolak keras sebutan ini. Tak ada semangat emansipasi didalamnya. Kalau harkat wanita perlu diangkat berarti lelaki berdiri ditempat yang lebih tinggi dan tegak dari wanita. Maka kaum feminis lebih memilih sebutan Perempuan. Ia adalah simbol perlawanan. Ia juga simbol kemandirian, juga simbol emansipasi.

Pertarungan ideologis tidak hanya terjadi di penyebutan makhluq berkromosom xx. Ia juga melekat pada panggilan para aktivis mahasiswa. Sahabat, kawan, ukhti, teman dan saudara, yang di GMNI lebih memilih memanggil “Kawan”, yang di PMII memanggil “Sahabat” yang di KAMMI, HTI, dan LDK memanggil “Ukhti” dan berbagai panggilan lainnya. Sedangkan beberapa aktifis lainnya yang merupakan kaum minoritas dan tidak memiliki afiliasi memanggil dengan “Crut”, “Dal-kadal”, Dus, “Woi” “Brik” “C*k” “Cha” “Bek-bebek” dan segala panggilan aneh lainnya. Yang terakhir ini adalah, teman-teman saya.

Feminisme adalah gerakan yang kuat. Ia nyaring. Ia menggugat. Suara nyaring ini juga datang dari Nawal el sadawi. Cerpen dan novelnya menggemparkan mesir. Maka diseluruh mesir bukunya dibakar. Ia pun terlarang. Seperti Tan Malaka yang terlarang, seperti Pram yang dibuang.

Dari Nawal, lamat-lamat saya pun teringat, seorang perempuan kulit hitam yang dijodohkan oleh orang tuanya. Ia adalah muslimah yang taat. Taat beribadah dan taat pada suami. Hanya saja suaminya bukan suami yang baik. Ia tetap harus melayani suaminya disaat sehat maupun demam. Dan suaminya bukan orang yang romantis. Wanita kulit hitam ini punya sebuah mimpi, bahwa suatu saat nanti suaminya akan memegang tangannya di samping tempat tidur. Itulah hal paling romantis dan indah yang dia impikan. Suatu ketika suaminya meninggal, sebagai istri yang baik maka wanita kulit hitam inipun mendoakan agar suaminya masuk surga. Maka doanya sebagai muslimah taat didengar Tuhan, dan suaminya masuk surga. Tak berapa lama kemudian wanita ini juga meninggal, dan karena ia perempuan yang baik maka ia juga masuk surga. Dia sangat gembira, membayangkan disurga suaminya sudah menunggu disamping tempat tidur sambil tersenyum, lalu menggenggam tangannya. Namun sesampainya disurga ia terkejut, karena suaminya telah bahagia bersama tujuh bidadari. Iapun menangis, berlari keluar dari surga. Diakhir cerpennya lewat siperempuan Nawal berkata: Tak ada tempat bagi perempuan kulit hitam di surga. Sebuah cerpen yang membuat saya menarik nafas dalam-dalam.

Di Indonesia, walaupun tak sekeras Nawal, Kartini juga menggugat. Ia menggugat lewat tulisan. Lewat sebuah surat habis gelap terbitlah terang. Walau tak sekeras Nawal, namun itu adalah suara nyaring untuk ukuran tradisi jawa yang patuh. Tempat Kartini dibesarkan. Namun saya kira sebagian besar dari bangsa ini telah memilih. Mungkin bukan pilihan bijak. Yang kita pilih bukanlah semangat persamaan yang meluap-luap seperti yang ditulis kartini. Yang kita dengar bukan kepedihan yang dalam seperti dalam kisah-kisah Nawal. Kita memilih memakai kebaya dalam perayaan kartinian, namun barangkali tak menuliskan atau menyuarakan kesetaraan, tak benar-benar mendengar suara kepedihan.

Maka saya senang saat membaca profile seorang sahabat, yang mendefinisikan diri sebagai makhluq berkromosom xx. Yang ketika berjalan dihutan ia tak mengeluh, walaupun saya lihat bajunya sudah basah oleh peluh, speednya sudah sangat lambat, dan kaki-kakinya banyak tertancapi duri karang pulau sempu, saya masih kuat koq, katanya. Ia menggugat kesetaraan dengan halus. Definisi yang ia bangun memang menarik, kromosom xx adalah definisi yang nyaris bebas nilai. Dan terlebih lagi ia adalah definisi yang mengandung konsekuensi: jatuh cinta pada lelaki. Jatuh cinta, bukan menghamba.

11 thoughts on “Kromosom XX

    1. Siapa yang wisatawan mas Yofangga? itu sebenarnya tulisan yang saya buat tahun 2010 saat saya masih tinggal di malang, saat itu ada beberapa komunitas lokal yang sedang melakukan program bersih sampah sempu dengan sebelumnya sudah mengajukan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BB KASDA). Apa dalam tulisan saya ada menunjukkan pamer keindahan, pamer aktifitas dan foto selfie khas para wisatawan? enggak kan? semoga lain kali mas Yofangga bisa lebih bijak sebelum mengatai orang lain bebal

  1. …. Aku sih pengen gitu ada kromosom GB yang kepanjangannya Ganteng Banget, Mas. Ahahaha….

    Mau gmn gmn…perempuan tetaplah perempuan.. Laki laki tetap laki laki.. Mau sebutannya kayak apapun…. Kodrat masing2 udah jelas… Yg ribet biasana manusianya…

    Perempuan mau bekerja monggo.. Mau jadi ibu rumah tangga monggo… Mau jadi presiden.. Why not.. Setiap orang berhak menjadilan dirinya seperti apa yang mereka ingin…. Cuma kadang ya emang gt ya Mas… Pasti ada keterbatasan… Ada kelemahan… Pria dan wanita harus saling genggam.. Apalagi kalo dah jadi kekasih hati… Eaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *