Mencicipi Gurihnya Warisan Heritage di Pabrik Kecap Tua Kota Tangerang

Kecap adalah ingatan yang sangat tua, salah satu ingatan sejarah yang diwariskan hingga saat ini, turun temurun, dari dapur ke dapur. Kecap adalah produk budaya, punya akar historis yang kuat, dan setelah ratusan tahun belum banyak berubah. Kecap, yang berasal dari daratan China memiliki nama mula Ke’Tsiap, mulai dikenal pada tahun 1690, Ke’Tsiap dibuat dari sari hewan laut yang diasinkan dan diberi bumbu. Pembuatan Ke’Tsiap kemudian berkembang menggunakan kedelai, seperti yang kita nikmati hari ini.

Beberapa hari yang lalu, pemerintah kota Tangerang mengundang saya dan beberapa blogger lainnya untuk berkunjung ke sebuah perusahaan kecap lokal tangerang yang bernama Kecap Benteng Siong Hin, yang sekarang dipendekkan menjadi Kecap SH. Pabrik kecap SH ini adalah salah satu warisan heritage dan kuliner unik yang dimiliki oleh Kota Tangerang, sebuah kota di dekat Jakarta yang kaya dengan bangunan heritage.

Bangunan pabrik kecap SH ini dari luar tampak sangat sederhana, peralatan-peralatan yang digunakan juga relatif tradisional, dengan luas pabrik yang tidak seberapa, namun ternyata kapasitas produksinya lumayan besar, hampir sekitar satu ton per hari. Dari tungku-tungkunya yang berukuran besar dan tradisional, kecap hitam kental ini mengalir ke sebagian besar lapak pedagang makanan di kota Tangerang. Ya, market terbesar Kecap SH adalah pedagang kaki lima, seperti ketoprak, bakso, siomay, sate, cilok dll.

Kecap SH yang didirikan pada tahun 1920, dan saat ini sudah dikelola oleh generasi ke 4. Kecap SH mempertahankan tradisi pembuatan kecap dengan cara-cara yang tradisional yang mereka warisi dari leluhur selama beratus-ratus tahun, oleh karena itu sampai saat ini mereka tidk menggunakan pengawet buatan untuk membuat kecapnya sehingga kecap ini lebih sehat dan secara rasa lebih terjaga.

Kecap SH memiliki dua varian rasa, Asin dan Manis. Untuk kecap dengan rasa asin jumlah produksinya tidak sebanyak kecap manis, disesuaikan dengan selera pasar yang kebanyakan menyukai rasa manis. Untuk varian kecap manis sendiri kecap SH menyediakan dua jenis label: warna orange dan warna merah. Perbedaannya ada di sari kacang kedelainya, label orange adalah perasan sari kedelai yang pertama, sedang yang merah adalah perasan sari kedelai yang kedua. Jadi yang label merah adalah kecap nomor 1, sedangkan yang warna merah adalah kecap yang nomor 1 berikutnya. Ingat, ini kecap, tidak ada yang nomor dua.

Kecap pada asalnya memiliki rasa yang asin, lebih tepatnya gurih asin, namun setelah dibawa merantau oleh para pedagang china kecap kemudian menyesuaikan dengan selera warga lokal. Di Indonesia kecap yang dominan adalah kecap manis, kecap asin kurang begitu populer. Untuk kecap yang memiliki rasa manis bahan tambahannya adalah gula merah. Tekstur kedua jenis kecap ini juga berbeda, untuk kecap manis teksturnya lebih kental, sedangkan kecap asin lebih encer.

Ditangan generasi ke 4 ini kecap SH mulai melakukan ekspansi, mereka membuat botol kemasan 30ml untuk pasar perumahan. Selain menggarap pasar kaki lima dan perumahan kecap HS juga mulai serius menggarap pasar restoran, yang terbaru mereka mengeluarkan produk isi ulang 2 liter untuk pasar restoran tersebut.

Setidaknya sekali seumur hidup kita layak untuk sejenak berterima kasih pada penemu kecap, siapapun namanya. Dan jika kita berjalan-jalan ke kota tangerang, sempatkan untuk berwisata kuliner dan mencicipi lezat serta gurihnya Kecap Benteng SH.

2 thoughts on “Mencicipi Gurihnya Warisan Heritage di Pabrik Kecap Tua Kota Tangerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *